Masa Sih Manusia Bisa Baik atau Hidup Damai Tanpa Agama?

"Pokoknya!"

Baru-baru ini saya menemukan komentar berikut terhadap salah satu tulisan saya di web ABAM: “Manusia tidak bisa damai tanpa agama dan hanya dengan mengandalkan logika.” False dilemma yang tersirat dalam komentar si X, bahwa “tanpa agama” berarti “hanya mengandalkan logika” akan saya bahas lain kali. Jujur, saya sudah lelah membaca dan mendengar komentar serupa. Banyak penganut agama yang berasumsi bahwa manusia hanya bisa “baik” kalau beragama. Yah, wajar saja kalau X (yang sepertinya orang baik-baik) percaya bahwa (seperti kebanyakan umat beragama yang baik-baik juga) semua konflik agama disebabkan oleh “oknum” dan bukan oleh ajaran-ajaran agama, juga bahwa manusia betul-betul butuh agama agar bisa hidup dengan damai atau agar bisa menjadi manusia yang baik. Memang benar, kebanyakan konflik agama  tidak murni disebabkan perang ideologi, namun juga disebabkan banyak faktor lain seperti ekonomi, wilayah, rebutan sumber daya, tribalisme, dsb. Sure, sure. Saya juga jujur kurang yakin kalau dogma tok bisa membuat sekelompok orang kalap tanpa dibantu kemisikinan, ketimpangan sosial, dan faktor lainnya. Masa iya FPI mau repot-repot mengancam tempat-tempat hiburan kalau bukan ujung-ujungnya minta amplop? Tidak mungkin kan lapisan bawahnya yang seringkali rela berpanas-panas ria membawa spanduk itu menikmati gaji jauh di atas UMR? Cukup sering juga agama menjadi lem identitas yang menyatukan kelompok yang tertindas, rebutan sumber daya, wilayah dan lain sebagainya yang saya sebut tadi. Bahwa doktrin agama seringkali berpotensi memperburuk keadaan atau memperpanjang konflik mungkin bisa dibahas di kesempatan lain.

Di kesempatan ini, saya tertarik membahas beberapa hal: apa betul manusia (sebagai kelompok) tidak bisa hidup damai tanpa agama? Lalu apa kriteria “manusia baik” yang layak dijadikan pegangan? Dan dengan mempertimbangkan kriteria “baik” ini, mengapa kita sangat perlu akal sehat (atau yang kayaknya disebut “logika” oleh si X) dalam mengambil keputusan?

~

Sebelum membahas apa manusia bisa hidup damai tanpa agama, pertama-tama kita harus terlebih dahulu sepakat dengan kriteria “damai.” Sebagai kelompok, manusia dapat dikatakan damai kalau bebas dari konflik. Mungkin kriteria netral yang dapat saya gunakan di sini adalah yang dipakai oleh Global Peace Index. GPI adalah produk The Institute for Economics and Peace yang berbasis di Australia. Setiap tahun GPI mengeluarkan daftar peringkat negara-negara menurut indeks “kedamaiannya,” sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh The Economist Intelligence Unit. Kriteria “damai” GPI antara lain sebagai berikut: jumlah konflik internal maupun eksternal, jumlah kematian yang disebabkan konflik internal maupun eksternal, tingkat kriminalitas, stabilitas politik, aktivitas teroris, jumlah tindakan kejahatan yang violent, jumlah kasus pembunuhan per 100.000 orang, dan lain-lain. You get the picture.

~

Berikut adalah negara-negara paling damai menurut GPI, dengan memperhitungkan faktor-faktor yang saya sebut di atas (urutan sesuai peringkat, dimulai dari peringkat paling tinggi): Islandia, Denmark, Selandia Baru, Austria, Swiss, Jepang, Finlandia, Kanada, Swedia, Belgia, Norwegia, dst. Daftar lengkapnya bisa ditemukan di: http://en.wikipedia.org/wiki/Global_Peace_Index#Global_Peace_Index_rankings

Kalau kita sepakat bahwa kriteria damai yang digunakan GPI cukup baik dan bahwa asumsi si X bahwa “manusia tidak bisa damai tanpa agama” memang betul, seharusnya negara-negara yang menduduki peringkat teratas dalam GPI adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama. Betul kan? Bagaimana mungkin negara-negara tersebut bisa damai (ie., memiliki tingkat konflik, tingkat kriminalitas, tingkat pembunuhan, tingkat kematian akibat konflik, dst. yang rendah) kalau mayoritas penduduknya tidak beragama?

Yuk kita lihat, seperti apa sih kepercayaan mayoritas penduduk di negara-negara yang saya sebut di atas?

NOTE: sisa persentase menjawab tidak tahu atau tidak bersedia menjawab.

Islandia: 31% percaya Tuhan, 49% tidak percaya Tuhan namun percaya semacam “spirit” atau “life force”, dan 18% tidak percaya Tuhan, spirit, dan life force*

Denmark: 28%, 47%, 24%

Austria: 44%, 38%, 12%

Swiss: 44%, 39%, 11%

Jepang: Kurang dari 15% mengaku memiliki afiliasi agama (2010)**

Finlandia: 33%, 42%, 22%

Kanada: 30% tidak percaya Tuhan***

Swedia: 18%, 45%, 34%

Belgia: 37%, 31%, 27%

Norwegia: 22%, 44%, 29%

(Sumber: Eurobarometer Poll 2010, Canadian Ipsos Reid Poll, dan Craig Lockard)

Bandingkan angka-angka di atas dengan Indonesia yang populasi irrelijiusnya mungkin tidak sampai 1% (maklum kalau susah mendapatkan angka yang akurat berhubung WNI “diharuskan” beragama).

*Pada tahun 2013, 76,18% penduduk Islandia berafiliasi dengan the Church of Iceland. Angka ini sekilas membingungkan, mengingat hasil survey yang saya berikan di atas. Yang perlu dimengerti, “afiliasi” dengan agama tidak berarti seseorang menganut agama tersebut atau beribadah menurut agama tersebut, seperti yang akan saya jelaskan di bawah.

**Menurut Craig A Lockard. Societies, Networks, and Transitions Since 1450 (2nd ed., 2010). Secara budaya, Jepang mengkombinasikan beberapa kepercayaan, termasuk Shinto. Sedangkan menurut makalah yang diterbitkan Harvard University Press tahun 1988, 70%-80% penduduk Jepang menjawab tidak percaya agama saat diikutsertakan dalam survey.

***Survey yang diselenggarakan di Kanada berbeda dengan survey yang dilaksanakan di negara-negara Eropa yang disebut di atas. Survey yang saya sebut diselenggarakan oleh The Canadian Ipsos Reid Poll (2012). Yang menarik, menurut survey yang sama, dari 31% yang mengaku tidak percaya Tuhan (BUKAN dari total penduduk), 33% mengidentifikasi diri sebagai Katolik, dan 28% mengaku Protestan. Bisa dilihat bahwa mereka yang mengaku tidak percaya Tuhan, secara kultural adalah Katolik atau Protestan. Sebagai tambahan, menurut sensus pemerintah Kanada, populasi yang nonrelijius meningkat dari 12,6% pada tahun 1991 hingga 23,9% di tahun 2011.

~

Survey agama memang sedikit problematis, seperti yang dapat kita lihat di atas. Kok bisa orang yang mengaku tidak percaya Tuhan juga mengaku Katolik? Ambil contoh kakak ipar saya (Italia-Amerika) yang “Katolik” secara kultural. Ia tidak pernah ke gereja maupun berdoa, namun merayakan Natal, tidak jauh beda dengan saya yang ateis namun dibesarkan secara protestan dan masih suka menyanyikan lagu-lagu Natal atau bertukar kado saat Natal. Juga teman saya yang orang Turki yang mengaku Islam, namun tidak percaya Tuhan, apalagi agama. Bingung? In short, “agama” bagi mereka yang nonrelijius (bahkan ateis) dapat berperan sebatas sebagai identitas kultural, jadi kita harus ingat bahwa “afiliasi agama” sama sekali berbeda dengan religiositas.

Biar mudah, berikut daftar bangsa yang paling tidak religius* menurut GALLUP WorldView Poll 2006-2011 (diakses 14 September 2011):

  1. Swedia
  2. Denmark
  3. RRC
  4. Norwegia
  5. Estonia
  6. UK
  7. Hong Kong
  8. Perancis
  9. Czech Republic
  10. Jepang
  11. Finlandia
  12. Belgia
  13. Selandia Baru

*Daftar sesuai peringkat, dari paling tidak religius.

Di Eropa, jumlah penduduk yang tidak beragama semakin meningkat. Menurut studi berdasarkan sembilan survey berbeda yang hasilnya dilaporkan di pertemuan American Physical Society di Dallas, AS, pada tahun 2011, agama akan mulai “punah” di negara-negara berikut: Australia, Austria, Kanada, Czech Republic, Finlandia, Irlandia, Belanda, Selandia Baru, dan Swiss. Model matematika yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Dr. Daniel Abrams di tahun 2003 untuk untuk mengukur “kematian” (kepunahan) bahasa-bahasa dunia (http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197). Cukup lucu bahwa banyak negara yang digunakan dalam survey juga dinilai GPI sebagai negara-negara yang paling “damai” di dunia. Kebetulan?

~

Jadi, menganggapi komentar pengunjung web ABAM tadi: tidak, manusia sebagai kelompok tidak butuh agama untuk damai, untuk tidak berbuat jahat, dst. (by the way, baru-baru ini empat penjara di Swedia yang penduduknya hanya 18% teis ditutup karena jumlah pelaku tindakan kriminal menurun). Mungkin saja si X tadi secara pribadi merasa agama memberikan dia jangkar moral, belum lagi ketenangan, harapan, dsb. Mungkin saja ada manusia-manusia yang akan saling bacok kalau tidak dilarang agama, atau akan mencuri, atau akan korupsi, seperti yang sering terjadi di Indonesia ini. Eh…ah sudahlah.

Kita yang dibesarkan di Indonesia sudah dikondisikan dari kecil untuk percaya bahwa tanpa agama manusia tidak akan berfungsi secara sosial dan akan bertindak anarkis, bahwa agamalah yang bertindak sebagai rem moral. Kalau Anda sering main ke FP ABAM, tentu sering kan ketemu pertanyaan kocak seperti, “Kalau tidak percaya Tuhan, berarti kalian bebas dong ngapain aja (dari nyolong, membunuh, sampai ke yang absurd seperti ‘ngeseks dengan adik/ibu sendiri’—true story)?” Dengan logika serupa, seharusnya Indonesia yang mayoritas beragama lebih bersih dari tindakan kejahatan, korupsi, human trafficking, konflik internal, dan sebagainya dibandingkan bangsa-bangsa “kafir” yang saya sebutkan di atas. Kenyataannya?

Anyway, sekedar menawarkan perspektif. Berikut adalah lima negara yang menduduki peringkat terendah GPI: Sudan, Irak, Syria, Somalia, Afghanistan. Apa ini berarti agama membuat orang saling bunuh? Tidak juga. Kenyataannya memang jauh lebih kompleks dari itu, karena seperti yang saya kemukakan di awal, banyak variabel lain yang memiliki andil. Hanya, kalau agama menjamin  manusia akan damai atau kalau manusia butuh agama agar damai, melihat bukti yang ada, ya sudah jelas salah. Tidak perlu rendah diri begitu ah. Tanpa percaya Tuhan atau agama pun kita tidak akan lantas jadi maling, pemerkosa, dan pembunuh kok. Atau taruhlah Anda memang ada bakat psikopat, tidak punya empati, dan cuma takut sama neraka (semoga tidak ya), mbok ya jangan pukul rata dan menganggap bahwa semua orang seperti Anda.

~

Lalu mengapa manusia perlu akal sehat (mungkin ini yang disebut si X tadi sebagai “logika”—terus terang saya rada binyun kalau orang nyebut-nyebut “logika” semaunya) agar bisa benar-benar “baik”? Ambil contoh teman saya di Amerika Serikat. Katherine ini murid S2, salah satu murid yang paling berprestasi di bidang kami. Suatu saat saya, Katherine, dan teman saya satu lagi sedang bersiap-siap menonton film horor. Entah kenapa, link Amazon Prime yang ingin kami gunakan untuk menonton film online sedang kumat. Karena frustrasi, teman saya yang satu lagi mengusulkan agar kami menonton film tersebut di link lain yang gratis (dan seperti kebanyakan situs film gratis, juga ilegal). Katherine terdiam sebentar. Kata dia pelan-pelan (mungkin karena tidak mau menyinggung perasaan teman saya atau terkesan menggurui), “Hm, sebisa mungkin I want to do it the right way.” The right way artinya, tidak melanggar hukum dengan menonton film bajakan di link online gratis.

Memang perlu sedikit saja akal sehat untuk mengerti bahwa menonton film bajakan, menyogok polisi demi menghindari surat tilang, tidak membayar pajak seperti semestinya, sama saja dengan mencuri, karena merugikan pihak-pihak lain dengan mengambil atau tidak memberikan uang kepada pihak-pihak yang berhak secara hukum. Katherine ini juga tidak membeli pakaian dari beberapa merk Amerika Serikat karena tidak setuju dengan bagaimana mereka memperlakukan pekerja-pekerja pabrik di berbagai negara ketiga (baik dari kondisi kerja sampai tunjangan hidup). Katherine juga tidak membeli berlian karena khawatir berlian tersebut datang dari daerah-daerah konflik.

Dan guess what? Katherine seorang ateis yang datang dari keluarga sekuler. Ia, tidak seperti saya, tidak dibesarkan secara agama. Dan seperti saya, ia menganggap semua agama dan kitab suci hanya dongeng belaka.

Kalau Anda taat beragama dan yakin bahwa agamalah yang membuat Anda tetap baik, tanyakan ke diri Anda sendiri, apakah Anda sudah se”baik” Katherine (yang, btw, juga seorang vegetarian)? Atau sekedar “baik” secukupnya menurut agama Anda saja (tidak nyolong dompet orang, tidak  membunuh, menghormati orang tua, rajin ibadah, sedekah, yaddayadda; bok, daripada sedekah tahunan atau sekali-sekali saja, mending kita membantu mereka yang butuh dengan mengambil bagian dalam solusi jangka panjang seperti taat pajak kan)? Menjadi baik secukupnya itu mudah kalau Anda bukan seorang sociopath. Menjadi benar-benar baiklah yang susah. Saya juga masih berusaha agar bisa sebaik teman saya Katherine.

(Alika)

~~~

P.S.

Omong-omong soal korupsi tadi, sebagai penutup, ini daftar 10 negara paling tidak korup menurut studi yang diselenggarakan Transparency International (dimuat di Reuters):

Paling tidak korup (sesuai peringkat):

  1. Denmark
  2. Selandia Baru (skor sama dengan Denmark)
  3. Finlandia
  4. Swedia (skor sama dengan Finlandia)
  5. Norwegia
  6. Singapura (skor yang sama dengan Norwegia)
  7. Swiss
  8. Belanda
  9. Australia
  10. Kanada (skor yang sama dengan Australia)

Bosan yah. Negara-negara yang sama terus yang muncul. 

Pasti konspirasi jiionis!

Pasti konspirasi jiionis!

Sumber:

http://economicsandpeace.org/

http://www.eiu.com/

http://www.visionofhumanity.org/pdf/gpi/2013_Global_Peace_Index_Report.pdf

http://economicsandpeace.org/wp-content/uploads/2011/09/2012-Global-Peace-Index-Report.pdf

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197

http://www12.statcan.gc.ca/nhs-enm/2011/as-sa/99-010-x/99-010-x2011001-eng.pdf

http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/sweden-closes-prisons-number-inmates-plummets

http://redcresearch.ie/wp-content/uploads/2012/08/RED-C-press-release-Religion-and-Atheism-25-7-12.pdf

Eurobarometer Poll Report 2010

Lockard, Craig A. Societies, Networks, and Transitions: A Global History. Volume II: Since 1450. 2nd ed. Cengage Learning, 2010.

http://www.reuters.com/article/2013/12/03/idUS95815491020131203

GALLUP WorldView Poll 2006-2011 via http://en.wikipedia.org/wiki/Irreligion_by_country#Countries

Advertisements

Jika nanti ternyata setelah mati Tuhan benar-benar ada, bukankah ateis rugi?

Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai setelah menjadi ateis. Bagaimana kalau nanti setelah mati kami berhadapan dengan Tuhan? Siapkah kami dengan konsekuensi masuk neraka? Bukankah lebih baik mengambil posisi yang aman, yaitu percaya Tuhan dan beragama sehingga pasti terhindar dari neraka?

Well, tunggu dulu. Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 2700 konsep tuhan dan dewa-dewi yang terekam dalam sejarah manusia? Ada setidaknya ratusan agama dan aliran kepercayaan, banyak di antaranya bahkan tidak mengajarkan konsep surga dan neraka. Memang sekarang hanya ada beberapa agama besar di dunia, tetapi beberapa sistem kepercayaan (Yunani dan Mesir kuno, misalnya) bertahan selama ribuan tahun sebelum punah digantikan agama-agama yang populer saat ini. Belum lagi banyak sistem kepercayaan baru yang semakin populer (Scientology, Mormon, Saksi Yehovah, antara lain), dan entah bagaimana masa depan mereka.

Selain konyol bahwa saya harus percaya cuma agar “tidak rugi” seperti berjudi, sebetulnya kalau dipikir-pikir kembali, andaikan Tuhan memang benar-benar ada, kemungkinan ateis dan teis “salah” tidak beda jauh. Ateis tidak percaya seluruh konsep tuhan yang ada, sedangkan teis (yang beragama Samawi) hanya percaya satu. Taruhlah ada hanya 100 Tuhan dan agama yang mengajarkan surga dan neraka, dan dari antaranya ada Tuhan yang benar-benar ada, dan kepercayaan yang “benar.” Maka kemungkinan teis menyembah Tuhan yang benar hanya 1:100.  Dan ini perhitungan konservatif.

Pertanyaan yang lebih penting: andaikan Tuhan ada, dan seorang teis menyembah Tuhan yang “benar,” apakah ia siap melihat mayoritas penduduk dunia masuk neraka hanya karena menyembah Tuhan yang salah? Dan apakah Tuhan yang semacam itu, yang mencemplungkan manusia ke dalam neraka hanya karena tidak menyembahNya, layak disembah?

Kenyataannya, agama dan sistem kepercayaan yang kita anut sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita dibesarkan dan agama orang tua kita. Bagi kami yang ateis dan sudah meninggalkan ajaran agama terdahulu, konsep Tuhan dan surga dan neraka sudah terlampau jauh dari pikiran. Saya tidak takut neraka sama seperti saya tidak takut duduk di pintu meskipun banyak yang bilang “nanti susah jodoh” atau takut menduduki bantal meskipun banyak yang bilang “nanti bisulan.”

-Alika

Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak Percaya vs. Percaya Bahwa Bukan – Perbedaan Antara Ketidakpercayaan dan Penyangkalan

Banyak yang sulit memahami bahwa “tidak percaya X” (tidak percaya adanya tuhan atau dewa-dewi) tidak sama dengan “percaya bukan X” (percaya bahwa tuhan tidak ada). Penempatan dari kata negatif adalah kuncinya: yang pertama berarti tidak memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah benar, yang kedua berarti memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah salah. Perbedaan di sini adalah antara ketidakpercayaan dan penyangkalan: yang pertama adalah ketidakpercayaan dalam arti luas atau sempitnya, sedangkan yang kedua adalah penyangkalan.

Membedakan antara keduanya seharusnya sederhana dan mudah saja, tetapi cukup sulit untuk menerangkan hal ini ketika seseorang tidak langsung mengerti. Yang membuat banyak orang tersandung sepertinya asumsi bahwa kalau dihadapkan dengan proposisi apa saja, pilihan yang ada hanyalah untuk percaya bahwa sesuatu itu benar atau percaya bahwa sesuatu itu salah—sehingga saat dihadapkan dengan pertanyaan apakah tuhan ada, seseorang mesti percaya bahwa: 1. setidaknya satu tuhan ada; 2. percaya bahwa tidak satu pun tuhan ada.

Ini adalah kesalahan. Mungkin benar bahwa kebanyakan proposisi yang terpikirkan adalah proposisi yang kita percayai sebagai benar atau salah, tetapi ada banyak sekali proposisi lain yang tidak masuk ke kategori yang saya sebutkan barusan. Pemikiran berhati-hati tentang beberapa skenario “hypothetical” akan membantu menjelaskan kerumitan ini.

Kaos Kuning Seorang Ateis

Kamu percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning? Untuk membuat pertanyaan ini lebih teknis, apakah kamu percaya proposisi “Joko sedang memakai kaos kuning” adalah benar? Ini adalah pertanyaan sederhana di mana arti setiap terminologi yang saya pakai cukup lugas, sehingga seharusnya tidak ada masalah untuk dapat mengerti pertanyaan ini. Setiap hari cukup banyak orang memakai kaos berwarna kuning, sehingga tidak ada keterbatasan logis atau fisik.

Yang menjadi masalah paling besar adalah ketidaktahuan (ignorance): kamu tidak mungkin tahu apa yang sedang saya pakai saat ini. Saya mungkin tidak sedang memakai kaos, apalagi yang berwarna kuning. Tidak ada landasan yang masuk akal agar kamu percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning. Kamu seharusnya percaya bahwa mungkin saya sedang memakai kaos kuning, dan kamu mungkin percaya bahwa saya terkadang memakai kaos kuning, tetapi kamu seharusnya tidak langsung percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning saat ini.

Dengan alasan yang sama, kamu juga seharusnya tidak kemudian percaya bahwa proposisi “Joko sedang memakai kaos kuning” adalah salah atau bohong. Ketidaktahuan kamu tentang apa yang saya pakai seharusnya mencegah kamu menolak proposisi ini, sama seperti ketidaktahuan tersebut membuat kamu tidak langsung menyetujuinya. Seperti yang kamu lihat, tidak memercayai bahwa proposisi ini benar tidak sama dengan memercayai bahwa proposisi ini salah: tidak menyetujui bahwa saya sedang memakai kaos kuning tidak berarti kamu menolak kemungkinan bahwa saya memakai kaos kuning.

Ini menggambarkan level ketidakpercayaan yang paling mendasar: kamu tidak secara aktif percaya klaim saya, tetapi kamu tidak juga menyangkalnya. Banyak ateis mengambil posisi ini terhadap klaim teistik, ketika klaim-klaim tersebut terlalu buram untuk dievaluasi. Tentunya klaim-klaim tersebut tidak menggambarkan kepercayaan yang rasional, tetapi tidak ada alasan cukup untuk mengambil kesimpulan lebih jauh.

Mengunjungi Kanada

Respons yang lebih luas terhadap suatu proposisi dapat diamati dengan mempertimbangkan suatu skenario yang lebih kompleks. Kalau saya mengaku bahwa saya mengunjungi Kanada minggu lalu, apakah kamu akan percaya? Mengunjungi Kanada (bagi orang Amerika) cukup biasa, jadi tidak ada alasan untuk berpikir bahwa pernyataan saya bohong. Meskipun begitu, kamu juga tidak memiliki alasan untuk percaya begitu saja bahwa pernyataan saya benar. Kamu dapat percaya saya begitu saja, tetapi kamu juga dapat menerima klaim saya sebagai masuk akal tanpa memikirkannya lebih jauh, atau percaya bahwa pernyataan saya pasti benar.

Kita dapat memodifikasi klaim saya menjadi “Saya merangkak dari rumah saya ke Kanada.” Lagi-lagi, hal ini bisa saja dilakukan, tetapi di saat yang sama, hal ini tidak begitu mungkin. Untuk apa saya merangkak sampai Kanada? Kamu dapat saja langsung berkesimpulan bahwa klaim saya bohong, tetapi posisi yang lebih berhati-hati adalah untuk “tidak percaya” klaim saya sampai ada bukti lebih lanjut. Kamu tidak memercayainya secara aktif (karena sepertinya hampir tidak mungkin), tetapi kamu juga tidak menyangkalnya (karena bukannya sama sekali tidak mungkin).

Sekali lagi, tidak memercayai suatu proposisi sebagai benar tidak berarti percaya bahwa proposisi tersebut salah atau bohong. Bentuk ketidakpercayaan yang lebih sempit ini adalah reaksi umum ateis terhadap klaim-klaim teistik. Dalam hal ini, klaim-klaim tersebut cukup koheren dan mudah dimengerti, tetapi tidak ada cukup bukti yang mendukung. Saat tidak ada bukti cukup untuk menerima suatu kepercayaan yang rasional, seorang ateis tidak langsung menerima kepercayaan tersebut, tetapi ateis juga tidak mesti menyangkal klaim tersebut karena kurangnya bukti bahwa kepercayaan tersebut salah. Reaksi ateis, karena itu, adalah untuk “menolak untuk percaya terhadap” klaim tersebut karena pihak teis tidak menawarkan alasan yang cukup baik untuk percaya.

Kepercayaan vs. Ketidakpercayaan vs. Penyangkalan

Seharusnya sekarang cukup jelas bahwa meskipun tidak ada posisi tengah antara ketidakpercayaan dan kepercayaan bahwa beberapa proposisi adalah benar, seseorang tidak harus secara positif menerima atau secara aktif menyangkal bahwa proposisi apa pun adalah benar. Ketidakpercayaan terhadap suatu proposisi bisa saja tidak lebih dari tidak adanya rasa percaya bahwa proposisi tersebut benar, dan hal ini bisa jadi disebabkan oleh ketidaktahuan mengenai proposisi tersebut, meski bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain, misalnya keinginan untuk mempertimbangkannya lebih jauh atau untuk mengumpulkan lebih banyak bukti.

Ketidakpercayaan terhadap suatu proposisi mungkin dapat menjadi penolakan aktif bahwa kepercayaan tersebut benar, meski tanpa menjadi sebuah penyangkalan bahwa proposisi tersebut benar. Penyangkalan bahwa suatu proposisi benar sama saja menerima bahwa proposisi sebaliknya benar, sedangkan tidak ada bukti tidak mendukung ini, sama seperti tidak ada bukti yang mendukung kebenaran klaim awal. Sekali lagi, ada banyak alasan mengapa seseorang menolak untuk menerima suatu proposisi sebagai benar tanpa juga secara aktif menyatakan bahwa proposisi sebaliknya benar—mereka bahkan tidak mesti memiliki alasan-alasan yang baik. Yang penting adalah fakta bahwa ketidakpercayaan atau penolakan akan suatu kepercayaan, termasuk proposisi bahwa beberapa tuhan benar-benar ada, tidak berarti menyatakan bahwa proposisi tersebut salah.

-Austin Cline, dimuat di About.com

Testimoni Alika: Mengapa Saya Ateis?

Saya lahir di keluarga yang beragam. Ayah saya Muslim dan ibu saya Kristen Protestan. Ketika sudah dewasa saya dan kakak-kakak saya dibebaskan untuk memilih agama masing-masing, termasuk untuk tidak menganut agama mana pun, meski selagi kecil kami semua dididik secara agama. Awalnya saya dididik secara Kristen oleh ibu saya dan diwajibkan membaca Alkitab dari awal sampai habis. Sedangkan ayah saya yang menjunjung nilai sekuler mengajarkan saya untuk berempati dan menggunakan akal sehat. “Ah, nggak perlu pusing memikirkan akhirat. Kita kan nggak tahu surga sama neraka itu ada apa nggak. Yang penting kita berbuat baik dan berguna bagi manusia,” kata ayah saya dulu. Ini sangat berbekas di diri saya, karena saya melihat bahwa ayah saya yang tidak pernah membicarakan agama, tidak pernah salat, atau pun puasa saat bulan Ramadan, adalah orang yang sangat peduli. Sudah banyak sekali orang yang ia bantu sampai lulus kuliah tanpa peduli pamrih. Semuanya dilakukan dengan diam-diam. Saya pun tahu karena banyak orang yang datang bertamu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Sampai-sampai, suatu saat nenek saya yang Kristen sempat bilang bahwa ayah saya adalah orang yang “paling Kristen” di keluarga saya.

Cukup ironis bahwa membaca Alkitablah yang membuat saya skeptis terhadap agama. Saya pikir tidak adil kalau orang yang baik tidak dapat masuk surga kalau memegang agama yang salah atau percaya tuhan yang salah. Saat ini ada 2 milyar umat Kristen di dunia. Apa itu berarti bahwa 5 milyar manusia akan masuk neraka, termasuk ayah dan kakak saya? Atau taruhlah Islam agama yang “benar.” Apakah ini berarti lebih dari 5 milyar manusia akan masuk neraka, berhubung penganut Islam hanya 21% dari total penduduk dunia? (Sumber: Adherents.com)

Belum lagi banyak ayat-ayat yang kontradiktif dalam Alkitab sendiri. Di satu sisi Tuhan mengijinkan—bahkan kadang memerintahkan—pembunuhan (1 Samuel 12-13): “12 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. 13 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Hal ini sungguh janggal di pikiran saya dan tidak sesuai hati nurani saya. Namun di sisi lain Alkitab juga mengajarkan kasih sayang. Banyak ajaran Yesus yang saya kagumi, yang mungkin memang merupakan dobrakan di masanya.

Saya mulai belajar untuk cherry-picking. Apa yang baik saya ambil dan terapkan, dan yang menurut saya buruk tidak saya gubris. Namun kemudian saya berpikir. Kalau kitab suci merupakan semacam “kebenaran sejati” yang seharusnya bersifat absolut dan timeless, mengapa mesti dipilah-pilah? Saya lalu sampai kepada kesimpulan bahwa, well, mungkin agama hanya produk budaya manusia. Nilai-nilai moralitas sifatnya tidak stagnan. Apa yang beribu-ribu tahun lalu dianggap baik tidak lagi dianggap baik sekarang. Misalnya, terbukti bahwa hukuman mati tidak menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram (kita lihat bahwa negara-negara Skandinavia yang tidak menerapkan hukuman mati merupakan negara-negara yang paling tenteram menurut Global Peace Index, misalnya). Pernikahan dengan anak di bawah umur sekarang tentu saja tidak lagi wajar. Memiliki lebih dari 1 istri juga bisa dibilang sudah tidak jaman. Apalagi kita tahu sekarang bahwa “wanita lebih banyak dari pria” cuma mitos. Pokoknya, banyak nilai agama yang harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaman agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena hal-hal di atas saya berkesimpulan bahwa saya tidak perlu agama untuk menjadi manusia yang baik. Saya cukup mengandalkan empati dan akal sehat sebagai modal dasar saya menjadi manusia yang bermoral.

Saya menyelesaikan SMA di Amerika Serikat. Karena melihat bahwa banyak guru dan teman-teman saya yang tidak beragama, saya baru sadar bahwa memang manusia tidak perlu beragama. Sebelumnya saya pikir manusia mesti beragama. Maklum, saya besar di Indonesia, di mana kolom agama masih diwajibkan di KTP (ya ampun, sudah abad 21 loh ini!). Saat itulah saya mulai menyadari dan menerima bahwa saya tidak lagi beragama.

Mengapa ateis? Tidak ada bukti bahwa ada sosok pencipta atau sosok Tuhan personal yang ikut campur dalam kehidupan manusia. Kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa, mengapa Ia mengijinkan begitu banyak manusia sengsara, belum lagi yang melakukan berbagai macam tindakan kejahatan atas namaNya. Sedangkan kalau Tuhan tidak Maha Kuasa, maka Tuhan seperti apa yang ada? Dan perlukah kita sembah?

Ateisme bagi saya adalah posisi terbuka. Saya tentu tidak bisa bilang secara pasti bahwa tidak ada sosok Tuhan (ada banyak sekali konsep Tuhan, termasuk Tuhan non-personal yang hanya sebagai pencipta). Saya hanya menyadari bahwa alam semesta dan segala isinya ini tidak memerlukan adanya pencipta, dan selama belum ada bukti bahwa Tuhan memang ada (entah Tuhan yang bagaimana), ya saya tidak perlu percaya. Tanpa saya sadari, saya sudah masuk kategori ateis.

Sekarang karena kakak-kakak saya sudah menikah, ada banyak tambahan baru di keluarga saya, termasuk yang Katolik, Hindu, panteis, dan irelijius. Meskipun keyakinan kami berbeda, toh kami tetap akur dan saling mengasihi. Apa serunya sih dunia yang seragam?

What’s your story? ;)